Pengantar
Seni Bertutur sebagai media komunikasi
Akhir akhir ini sering kita jumpai komunikasi yang tidak seimbang antara penyampai pesan dengan penerima pesan , si penyampai pesan asyik memberikan informasi kepada penerima pesan ,sementara penerima pesan asyiik memikirkan informasi serupa yang lebih seru untuk mengimbangi pembicaraan mereka. Kedua orang asyiik berkomunikasi seolah olah mereka membicarakan sesuatu yang menarik .padahal mereka hanya saling bertukar informasi yang berlainan.
Indonesia memiliki kekayaan budaya sastra lisan yang berkembang di berbagai daerah di seluruh wilayah Indonesia. ,misalnya di sumatera budaya pantun bersambut masih kita jumpai dalam acara - acara adat., orang orang minang memiliki kumpulan pepatah petitih yang merupakan nasehat nasehat dari para pemuka agama atau tetua kampung.di jawa ada seni kentrung seni pertunjukan dengan iringan musik kendang dan jidor dan seorang dalang yang menjadi penutur. Adalagi seni mocopat yang di tembangkan pada saat menyambut kelahiran bayi dsb.di Kalimantan ada seni berturtur yang di iringi panting alat musik petik khas banjar. Ada juga sampek /sape yang di gunakan sebagai pengiring lagu lagu dayak.yang berisi nasehat atau cerita cerita yang mengandung pesan moral..dan masih banyak lagi seni budaya bertutur dari masing masing daerah di Indonesia ,yang semuanya mengandung nasehat atau kata kata bijak ,namun seiring perkembangan jaman budaya seni bertutur mulai di tinggalkan terutama generasi muda, karena dianggap kurang praktis dan kurangnya regenerasi dari pelaku - pelaku seni bertutur
Pada dasarnya nasehat nasehat yang di komunikasikan melalui seni bertutur lebih mudah diterima oleh penerima pesan,unsur unsur seni dan keindahan yang mendukung sangat membantu dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan.
Kelebihan dari seni bertutur melaui budaya ini adalah ,penerima nasehat akan menerima nasehat nasehat yang di sampaikan tanpa merasa dinasehati.
Kelemahan menyampaikan pesan melalui seni bertutur tradisional diperlukan beberapa faktor pendukung sekaligus kemampuan tehnis dari penyampai pesan.
Jika televisi ,gadget ,memberikan informasi lengkap dengan gambar/visual/dan audio semata mata sebagai pendukung informasi yang ingin di komunikasikan , penerima pesan cukup menerima pesan begitu saja tanpa melibatkan kreatifitas imaginasi.
Ini berbeda dengan seni bertutur lisan.yang memberikan ruang kreatifitas imaginasi kepada penerima pesan , dengan demikian pesan yang disampaikan mengandung kegiatan kreatif dari pikiran untuk memahami pesan sesuai daya kreatifitas imajinasinya.
Ini bisa terjadi jika penyampai pesan /penutur memiliki kemampuan tehnis komunikasi yang terasah.
.sebagai modal awal bertutur Pendongeng /Penutur sebaiknya melatih kemampuan tehnis meliputi
.- latihan alat ujar dan artikulasi
.- latihan vokal dan pernapasan
napas dada ,napas diafragma , Napas perut,
- melatih ekspresi yang terkait dengan kondisi emosi dalam rangkaian cerita ,sedih ,senang ,gembira,dsb.
.- latihan alat ujar dan artikulasi
.- latihan vokal dan pernapasan
napas dada ,napas diafragma , Napas perut,
- melatih ekspresi yang terkait dengan kondisi emosi dalam rangkaian cerita ,sedih ,senang ,gembira,dsb.
Semoga bermanfaat dan mampu memberikan sumbangsih pengetahuan dasar seni bertutur pada pembaca
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi timbal balik /interaktif .
Kak Azis franklin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar